Rabu, 18 Agustus 2021

Pengalaman Lulus Tes SILN Jeddah, KSA


Foto source: Wikipedia

Sejujurnya saya tak tahu ingin memberi judul apa pada postingan kali ini. Tapi beberapa kawan meminta saya menuliskan pengalaman mengikuti seleksi guru Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) agar dapat menjadi pengalaman bermanfaat bagi pembacanya. 

Baiklah, Februari lalu saya menerima kabar bahwa SILN kembali menerima seleksi guru dan PTK dari PNS setelah beberapa kali sebelumnya seleksi hanya diperuntukkan bagi guru Non-PNS. 

Dahulu setelah lulus S-1 di UNP saya berkenalan dengan bapak Risman Mamak yang bertugas di Sekolah Indonesia Tokyo melalui sosial media dan banyak bertanya pada beliau. Beliau menyarankan agar saya menyelesaikan dulu kuliah magister dan memiliki sertifikat pendidik, karena kedua hal tersebut sangat membantu ketika kita berada di luar negeri nantinya.

Saya tidak tertarik pada Jepang, tapi Belanda. Saya mencari tahu tentang SID (Sekolah Indonesia Den Haag) di Wassenaar dari berbagai sumber di internet. Zaman itu belum secanggih sekarang dimana arus informasi sangat deras. Setelah membaca banyak literatur (termasuk estimasi biaya hidup) saya mencoba realistis dan akhirnya memilih Kuala Lumpur. Why? Pertama, karena ianya dekat dari Padang. Tahun 2019 kami study banding ke SK Wangsa Maju di KL, lama di perjalanan hanya 2 jam kurang sedikit. Macam naik oto ke Bukittinggi saja, sanak! Kedua, masalah budaya dan bahasa. Bahasa Malaysia ala KL baik rasmi maupun slang sangat mudah dipahami oleh orang Sumatra apalagi orang Padang karena similarity dari kedua bahasa yang memang berasal dari asal bahasa dan budaya yang sama hanya beda dialek saja. Ketiga, biaya hidup. Saat di KL Cik Ross (guide kami di atas bus) bercerita kost biaya hidup di Malaysia dan harga ataupun sewa rumah di sana. It's worthed, for me. Meski jujur saat ke KL saya merasa sama saja seperti di Indonesia. Situasi jalannya, gedung-gedungnya. Kecuali KL Tower yah. Jangan tanya Singapore ya..nanti saya jadi ingat ditahan berjam-jam di immigrasi borderland JB-SG 2019 lalu. Hii..takut.

Maka saat mengisi pilihan negara saya memilih KL, Malaysia. Namun setelah bergabung dengan grup SILN Sumbar 2021 yang digawangi alumni guru SILN Jeddah Muhammad Dasril, saya tergoda mencoba peruntungan dengan memilih kota Jeddah, KSA. Karena selain mengajar saya dan keluarga saya nantinya diharapkan juga bisa beribadah Haji dan Umroh. 

Foto Source: Fb Muhammad Dasril

Beberapa persyaratan khusus yang dicantumkan tahun ini : 

1. Guru PNS/Non PNS. Bagi PNS minimal pangkat III.b, berijazah S.1 dengan IPK 2,75.

2. Memiliki sertifikat profesi pendidik yang linear dengan jabatan yang dilamar, kecuali bagi pelamar tertentu dengan sertifikat keahlian.

3. Memiliki NUPTK, Sertifikat TOEFL Prediction Score minimal 450 dari lembaga bahasa terakreditasi

4. Memiliki pengalaman mengajar minimal 5 tahun. Diutamakan menguasai bahasa lokal negara yang dituju.

5. Diutamakan memiliki sertifikat/penghargaan nasional sebagai keterampilan tambahan selain mengajar; Olahraga, Pramuka, Seni Budaya, Keagamaan, TIK, Akuntansi/Keuangan

Lamaran dilengkapi dengan pas foto, seluruh surat-surat dalam persyaratan, surat keterangan sehat dan bebas narkoba yang masih berlaku, deskripsi diri, potensi dan motivasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Bagi guru Non PNS semuanya hampir sama, hanya saja penandatangan berkas Kepsek dan Ketua Yayasan.

Setelah menunggu berbulan kemudian keluarlah pengumuman peserta yang lolos seleksi adminitrasi, untuk info kalian bisa check it out here: http://mutasi.sdm.kemdikbud.go.id/siln/?menu=3# . Selanjutnya dimulailah tes berjenjang yang menguras waktu, tenaga, dan konsentrasi antara lain: tes psikotes/TPA, tes TOEFL, tes Psikologi. Karena tahun ini rekrutmen dilakukan saat pandemi, maka seluruh tes berlangsung secara online. Kemdikbud/PKLN bekerjasama dengan salah satu lembaga konsultan psikologi independen profesional. Jadi jangan cemas, tidak akan ada bias apalagi KKN dalam penerimaan ini. Hari berikutnya tes dilakukan secara marathon berupa simulasi mengajar, FGD Wawancara (2 lapis).

Tips dan saran yang mungkin bisa saya tambahkan;

1. Tulislah surat lamaran, motivasi dan critical incident dengan jujur, meyakinkan, dan penuh semangat. Jangan lupa cetak semua berkasmu termasuk CV (yang dikirimkan) dan form Critical Incident yang telah diisi karena ia sangat membantu dalam kedua wawancara berlapis.

2. Sediakan alat ICT yang mumpuni, minimal laptop, speaker, headset, dan lampu sorot bila ada (biar glowing).

3. Pelajarilah buku-buku Psikotes/TPA, TOEFL, dan tes Psikologi. Kalau kamu malas membaca maka cari saja di mas Google. Insya Allah si mas siap sedia membantu.

4. Rancanglah salah satu pembelajaran yang menarik dalam bentuk RPP dengan alat peraga multi moda dan real. Actually mereka ga peduli dengan materi yang kamu sampaikan tapi lebih ke cara kamu menyampaikannya (udah mirip bahasa Jaksel belum ni?). Mereka lebih menilai delivery mu menarik ga? Inovatif ga? Jujur waktu itu dua menit pertama saya agak grogi. Jadi pas ditanya setelah simulasi (simulasi hanya 10 menit), saya jujur saja dan minta maaf tadi agak sedikit grogi jadi lupa urutan. Alhamdulillah untuk tes simulasi ini saya banyak dibantu teknisnya oleh mahasiswa PPG Pra Jabatan yang saya bimbing. Terimakasih Ade, Dea, Winda..ternyata bener ya..kita saling belajar satu sama lain. 

5. Saat wawancara usahakan critical incident dan CV ada di sampingmu agar saat interviewer bertanya, kamu gak bingung ini teh bahas apa bagian yang mana (karena CI tsb berlembar-lembar). Jawablah pertanyaan dengan sopan, jangan mengada-ngada apalagi mengira-ngira.

6. Terakhir yang paling mumpuni, minta doa dari orang tuamu, mertuamu, istri/suamimu agar semuanya dilancarkan dan penuh berkah. 

Untuk sementara itu dulu (panjang beud). Nanti kita sambung dengan cerita berikutnya. 





Selasa, 17 Agustus 2021

School at Pandemic in Padang

 Sejak Pandemi menyerang pada akhir tahun 2019 sampai membuat seluruh sekolah di Indonesia tutup dan harus berlangsung secara online (dalam jaringan), masyarakat kita benar-benar kelabakan. Adaptasi terhadap kebiasaan baru, istilah-isltilah baru menuntut para guru, siswa, terutama orang tua melek dengan teknologi dan pembelajaran yang disampaikan secara dalam jaringan (daring), kombinasi, maupun luar jaringan (luring).

Di awal tahun 2020 para guru kemudian memindahkan kelas konvensional mereka ke dalam grup chat pada aplikasi sosial media Whatsapp. Salah satu alternatif paling gampang dan akrab dengan masyarakat Indonesia. Namun setelah dijalani selama seminggu minat belajar siswa terlihat menurun. Beberapa diantara mereka hanya mengisi daftar hadir, namun melewatkan penjelasan guru di video, voice notes, maupun foto penjelasan. Sebagian dari mereka hanya mengerjakan tugas yang ternyata diambil dan ditempel dari situs-situs yang ternyata memang tersedia untuk membahas seluruh soal pada buku tema maupun mata pelajaran. 

Beberapa aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom, Edmodo, Padlet, dll sebenarnya tersedia dan cocok untuk digunakan sebagai alternatif pengganti Whatsapp ataupun LKS yang diberikan dan diperiksa sekali seminggu. Ataupun metode drilling menjawab soal yang disediakan guru untuk diantarkan dalam jangka waktu tertentu oleh orang tua. Tapi kendalanya, sebagian guru tidak menyukai aplikasi tersebut karena menurut mereka ribet, menambah kerja, dan tidak efektif. Bagi siswa juga repot, meyusahkan, dan tidak asyik. Ini dari pengakuan sebagian kawan yang mencoba menerapkannya di kelas. 

Selain itu, di awal semester atau tahun ajaran guru juga sebetulnya dapat mengantisipasi kesulitan dalam pembelajaran di masa pandemi ini dengan memetakan siswa dan aksesnya terhadap gadget. Orang tua dan siswa diundang ke kelas untuk memantau berapa orang yang memiliki gadget, rasio gadget dengan anak di rumah, akses terhadap kuota dan wi-fi, serta dukungan orang tua siswa baik dukungan waktu (mendampingi dalam belajar) maupun menyediakan kuota (finansial). Karena sebagian orang tua siswa terdampak secara ekonomi akibat pembatasan kegiatan (lock down) yang dilakukan oleh pemerintah. Hal ini pernah penulis bahas saat diundang menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Internasional Pembelajaran di Era Pandemi yang diadakan oleh Jurusan PGSD UMSB.




Untuk mengatasi itu kami bergerak mengadakan workshop/bengkel kerja Penggunaan Aplikasi Pembelajaran dan Pembuatan Video Pembelajaran di Kecamatan Pauh menggandeng Universitas Putra Indonesia (UPI YPTK) dalam bentuk kegiatan Pengabdian Masyarakat. Kegiatan ini diiikuti oleh guru SD di Kecamatan Pauh di SD Negeri 13 Kapalo Koto tempat penulis mengajar.

Alhamdulillah bersama narasumber, dosen, dan mahasiswa UPI YPTK para guru didampingi menggunakan aplikasi pembelajaran sederhana dan pembuatan video menggunakan aplikasi rekam layar Camtasia. Kedua materi tersebut merupakan skill yang harus dikuasai guru untuk beradaptasi mengajar di tengah situasi Pandemi Covid-19 saat ini. 

Bravo Pendidikan Indonesia!

Sumber Foto: UMSB 

Rabu, 11 Oktober 2017

GELANGGANG RANDAI DI SEKOLAH impian tentang pusat literasi dan pendidikan karakter berdasarkan kearifan lokal minangkabau


Sejak era pra kemerdekaan Indonesia, Minangkabau sudah menjadi pusat pendidikan di Sumatra. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya beberapa pusat institusi pendidikan di Ranah Minang seperti Universitas Andalas, satu-satunya universitas tertua di luar Pulau Jawa, Diniyyah Putri Padang Panjang yang tak hanya diminati oleh para santri dari Indonesia, tapi juga dari Malaysia, Singapura, Brunai, dan Thailand. Sumatra Thawalib yang menjadi pelopor kebangkitan kebangsaan, Ruang INS di Kayu Tanam dengan perspektif kurikulumnya yang independen dan siap guna dan kampus-kampus baik negeri maupun swasta serta pesantren-pesantren baik tradisional maupun modern yang tersebar di seluruh Ranah Minang. Institusi-institusi pendidikan tersebut masih kokoh berdiri bahkan sebagiannya berkembang dengan pesat hingga saat ini.

Ada yang berbeda dari sistem pendidikan “lama” di Ranah Minang tersebut dibandingkan dengan sistem yang ada saat ini. Dahulu selain bersekolah secara formal di Sekolah Rakyat dan Pesantren, orang tua kita juga bersekolah secara tidak formal di Surau dan Lapau. Di Surau, selain belajar mengaji para pemuda Minangkabau juga ditunjukajari ilmu silat (bela diri), seni musik, pasambahan adat (pidato adat), seni berdebat, dan teater tradisional seperti Tupai Janjang, Simarantang, ataupun Randai. Sekolah informal ini membangun karakter pemuda-pemudi Minangkabau menjadi generasi yang percaya diri, fasih dengan ilmu agama, dan cerdas namun tetap santun.



Foto 1. Siswa beristirahat sebelum menampilkan Randai sambil bemain gadget (sumber foto: Erison J. Kambari/Instagram)

Di masa modern seperti ini, membangun kembali sistem pendidikan informal seperti dulu tidaklah mudah. Di lingkungan penulis bertugas mengajar contohnya, anak-anak usia pendidikan dasar (SD dan SMP) lebih banyak menghabiskan waktunya di Warnet untuk bermain games online dan surfing. Di usia dimana fondasi kehidupan pembentukan karakter diri seharusnya dibentuk mereka malah membuang waktu untuk permainan yang melenakan, rentan terpapar konten pornografi, premanisme, dan bahkan ada yang menghisap lem. Sementara surau saat ini hanya menjadi tempat belajar membaca Alquran, Didikan Subuh, dan kegiatan Pesantren Kilat di bulan Ramadhan saja. Kegiatan-kegiatan positif yang tadi penulis curahkan di atas mulai berangsur berkurang bahkan perlahan menghilang, kalaupun ada hanya bertahan di beberapa tempat tertentu saja di luar dari institusi surau seperti kelompok Randai para pemuda, sasaran Silat, ekstra kurikuler di sekolah menengah dll. Berangkat dari keprihatinan itulah penulis mengangkat revitalisasi kembali membangun karakter “pemuda tangguh” tersebut dengan menciptakan Gelanggang Randai di sekolah-sekolah, terutama di pendidikan dasar (SD dan SMP) sebagai usia periode emas pembentukan karakter generasi penerus di kota Padang.

Randai Selayang Pandang.

Mengapa memilih Randai? Ide ini penulis dapatkan semasa melanjutkan studi di Bandung. Di kota ini banyak gelanggang kesenian yang dipadukan dengan pusat literasi (perputakaan mini) dimana seniman yang melatih mengadakan pertunjukan di pusat kota dengan peralatan sederhana (sebagian properti hanya terbuat dari bambu) namun dapat dikemas dengan penampilan panggung yang memukau. Bandung yang tengah bertransformasi dari kota besar menjadi metropolitan tanpa ragu-ragu memadukan kearifan lokal khas Sunda dengan pendidikan, dunia pariwisata, dan semangat keberagaman. Seperti CCL di Ledeng yang melibatkan siswa sekolah menengah dan sekolah dasar dalam kegiatan drama tradisional mereka. Selain CCL juga ada Wajiwa di Buah Batu yang diasuh seorang dosen di ISBI Bandung yang lebih ke olah jiwa dan raga kanak-kanak. Hal ini mengingatkan penulis pada teater tradisional yang kita miliki namun belum tergarap secara optimal; teater tradisional Randai.

Randai memiliki hampir semua filsafat luhur dan unsur seni tradisional Minangkabau. Secara etimologis Randai berasal dari bahasa Arab yaitu kata ra’yan yang berarti penglihatan, pengamatan dan pemandangan dan da’i yang berarti penyeru, juru dakwah. Randai pada masa lalu bukan sebagai pertunjukan namun sebagai permainan anak nagari yang digunakan sebagai media penyampaian ajaran agama Islam berisi pengajian, baik tauhid (keimanan) maupun syariat (hukum Islam), Almarbawy dalam (Rustiyanti, 2010) sedangkan menurut  A. A. Navis (1984) Randai merupakan kesenian yang menggunakan medium ganda: tarian, nyanyian, sekaligus akting dan dendang.Ahli Randai dari University of Hawai’i yang menjadikan Randai sebagai dissertasinya, Kirstin Pauka (2003) secara gamblang menjelaskan Randai sebagai  sebuah teater asli Minangkabau yang berbasiskan teknik bunga-bunga silat. Selain bela diri, Randai juga menampilkan tarian, akting, nyanyian, musik instrumen, dan pukulan unik (tapuak) yang dimainkan dalam bentuk lingkaran. Fungsi Randai menurut Pauka merupakan media hiburan dan pendidikan di nagari-nagari di Minangkabau.

Menurut bentuknya Randai merupakan bentuk kesenian Minangkabau yang dilakukan oleh penari dengan menggunakan ceritera. Ciri-ciri Randai, yaitu:

1.       para penari bergerak dalam lingkaran besar (12-15 orang),

2.       sumber gerak penari galombang, bersumber dari pencak silat,

3.       karakter tokoh diungkapkan melalui akting dan dialog

4.       ceritera disampaikan dalam adegan demi adegan

5.       dendang sebagai pembatas antara suatu adegan ke adegan berikutnya., Rustiyanti, (2010).

Pementasan Randai selain diperlombakan dalam festival, biasanya dilakukan saat musim panen berakhir, pengangkatan gelar datuk (penghulu), pesta perkawinan, hari raya Idul Fitri, atau hari peringatan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus. (Pauka, 2003).

Randai sebagai Media Apresiasi Drama dan Pembentukan Karakter Percaya Diri Siswa Pendidikan Dasar

Perkembangan siswa SD dan kelas awal di SMP menurut Piaget berada pada tahap perkembangan operasional konkret, yang membutuhkan penalaran logika menggantikan penalaran intuitif, yang hanya  (bisa dilakukan) dalam situasi konkret. Situasi konkret tersebut dapat difasilitasi dengan bermain drama. Drama yang cocok digunakan untuk siswa adalah drama anak sederhana yang dekat dengan anak,  salah satunya adalah drama/teater tradisional. Menurut Latrell (1999), Randai merupakan salah satu bentuk seni teater terbaik di Sumatra Barat, Indonesia, yang memadukan tarian penuh semangat, seni bela diri, dialog, dan musik. Penggunaan drama dengan medium ganda tersebut diharapkan dapat memotivasi anak agar lebih percaya diri dan meningkatkan kemampuan apresiasi sastranya. Sesuai dengan pendapat Russel-Bowie (2013) yang menyatakan bahwa, para pendidik hendaknya mengenalkan pembelajaran yang mengasah pengalaman siswa untuk membawa perubahan sikap siswa ke arah yang positif, penuh percaya diri, dan mengerti dengan drama.

Secara umum permainan Randai klasik menggunakan teknis penyajian sebagai berikut:

a.    Sebelum pertunjukan dimulai, terlebih dulu dimainkan alat-alat musik tradisional berupa talempong, sarunai, bansi, dan gandang. Fungsi bunyi-bunyian ini sebagai pemanggil bahwa pementasan akan dimulai. Untuk aplikasi di SD jika tak ada instrumen eksternal bisa diganti dengan rekaman suara musik.

b.    Dengan aba-aba dari Janang (ketua Randai), seluruh pemain masuk ke dalam arena membentuk dua baris berbanjar, dengan langkah silat membentuk lingkaran galombang. Pemain membalas dengan “hep-ta” atau “ais-ta” berulang empat kali secara bersama.

c.     Tukang goreh memberi kode “hep-ta”, maka seluruh anak Randai duduk berjongkok. Saat itu pembawa gurindam mulai menyanyikan dendang sebagai persembahan kepada penonton. (Dendang Dayang Daini).

d.    Tukang goreh memberi kode untuk bergerak dalam lingkaran galombang pertama.

e.    Setelah lingkaran terbentuk dari dua baris berbanjar tadi, dilanjutkan dengan kata-kata persembahan kepada penonton oleh Janang.

f.      Tukang goreh memberi tanda dengan suara kode “hep-ta” mengajak para pemain bergerak dengan gaya silat. Dilanjutkan dengan gerak galombang berikutnya diiringi dendang Simarantang untuk adegan pertama.

g.    Dendang Simarantang dinyanyikan beberapa kali, tergantung dari panjangnya gerak galombang, lalu dilanjutkan dengan tampilnya tokoh lakon cerita yang berakting di dalam arena lingkaran galombang. Begitu selanjutnya sampai babak terakhir. Dalam pertunjukan Randai diselingi dengan tarian perintang, seperti tari piring, pencak silat, indang, ataupun saluang dendang. Selingan ini dimaksudkan sebagai icebreaker agar penonton tidak bosan. (Rustiyanti, 2010)


Foto.2. Siswa SD sedang latihan Randai di halaman sekolah

(dokumen pribadi)

Tata cara bermain drama menggunakan Randai yang digunakan diadaptasi dari langkah-langkah  teknik pembelajaran drama menurut Rahmanto (2005) dan Sumiyadi (2013), yang membaginya ke dalam dua tahap, yaitu sebagai berikut:

1)      Tahap Persiapan

terdiri atas: a) pelacakan pendahuluan, yaitu: (1)memilih naskah randai, (2)memilih sutradara/pelatih. b) penentuan sikap praktis, yaitu: (1)mempelajari naskah randai, (2) menganalisis (mengadaptasi) naskah randai, (3) penyajian randai dalam bentuk video/foto.

2)      Tahap Pelatihan

terdiri atas : a) mencari bentuk, yaitu: (1)  diskusi awal, (2) pengembangan randai, (3) diskusi lanjutan., b) pemantapan/latihan umum/praktik percobaan, yaitu: (1) latihan gerakan randai, (2) latihan mengucapkan dialog, (3) akting c) pagelaran/pementasan.

Naskah yang digunakan dalam Randai hendaknya merupakan naskah yang layak baca untuk siswa usia Pendidikan Dasar.


Foto 3. Siswa menampilkan Randai di aula Balai Pelestarian Nilai Budaya

(BNPB) Kota Padang (dokumen pribadi)



Gelanggang Randai di Sekolah

Adanya sasaran Randai di sekolah dalam bentuk gelanggang khusus yang dipadukan dengan pusat baca (semacam perpustakaan mini) diharapkan bisa menjadi oase bagi siswa Pendidikan Dasar (SD dan SMP). Dari segi kemampuan berbahasa dan sastra, siswa dididik menjadi lebih cinta membaca (melek literasi) melalui membaca naskah Randai yang dimainkan, latithan vokal dan ekspresi, mampu mendiskusikan unsur instrinsik sastra (mengapresiasi karya sastra Minangkabau lengkap dengan filsafat Minang yang luhur), dll. Dari segi fisik dengan bermain Randai siswa dapat melatih kemampuan motoriknya dengan belajar dasar-dasar gerakan silat, mengenal disiplin latihan, dan sopan santun dalam berbicara di depan publik.



Foto 4. Teater Terbuka/Gelanggang Randai impian

Di Kota Padang sendiri sudah ada sanggar seni dan sasaran Randai, namun yang bersinergi dengan sekolah atau didirikan sebagai bagian dari pusat edukasi di sekolah belum banyak. Adanya hubungan saling edukasi antara sekolah dengan budayawan terutama seniman silat dan Randai yang difasilitasi oleh pemerintah kota diharapkan dapat mewujudkan impian ini. Randai yang dijadikan sebagai bagian dari kurikulum di University of Hawai’i dan Akademi Seni dan Warisan Malaysia seharusnya juga dapat diadaptasi sebagai bagian dari kurikulum pendidikan di Kota Padang. Sepulang sekolah, siswa-siswi SD dan SMP dapat belajar memainkan Randai  agar siswa tak hanya disibukkan oleh aktivitas di luar sekolah yang berbau negatif sekaligus mendidiknya untuk lebih menghargai budayanya sendiri.



Pauh, 17 April 2017


Senin, 18 September 2017

19 ENERGI POSITIF GURU




1.              Mendidik bukan membidik

2.              Mengobati bukan melukai

3.              Mengajak bukan mengejek

4.              Mengukuhkan bukan meruntuhkan

5.              Mengajar bukan menghajar

6.              Menguatkan bukan melemahkan

7.              Menyejukkan bukan memojokkan

8.              Menasehati bukan mencaci-maki

9.              Merangkul bukan memukul

10.       Bergerak cepat bukan berdebat

11.       Mencerdaskan bukan membodohkan

12.       Mengatasi keadaan bukan meratapi kenyataan

13.       Menebar kebaikan bukan mencari kesalahan

14.       Belajar bukan berdebat

15.       Memberi senyum bukan memvonis

16.       Mendatangi bukan menunggu dipanggil

17.       Memaafkan bukan meyalahkan

18.       Mencari teman bukan mencari lawan

19.       Menghargai perbedaan bukan memonopoli kebenaran.



Seminar sehari Inobel 2017 di Kuta, Bali

Rabu, 04 Maret 2015

Dyslexia, Kesulitan Membaca pada Siswa, Respons Orang Tua dan Guru yang Seharusnya







Setiap orang tua menginginkan anaknya tumbuh secara normal. Menjadi anak yang cerdas di sekolah, soleh  akhlak perilakunya, dan pandai bergaul di tengah masyarakat. Tetapi dalam perkembangannya, beberapa anak memiliki hambatan. Generalisasi bahwa  anak yang mengalami kesulitan belajar disebabkan oleh kurangnya kemampuan intelektual anak tidaklah benar. Sebagian mengalami kesulitan tersebut karena ada masalah dalam mengintegrasikan informasi dari beberapa area otak atau gangguan kecil pada struktur dan fungsi otak (Santrock, 2012 : 324).
Salah satu kesulitan belajar yang dialami anak adalah disleksia (dyslexia). Shaywitz & Sahywitz, 2007 (dalam Santrock, 2012 : 324) menjelaskan 80 persen anak-anak dengan kesulitan belajar bermasalah dengan membaca. Meski penyebab utamanya sampai saat ini belum ditentukan, pemerintah berbagai negara telah melakukan program intervensi untuk membantu anak-anak dengan kesulitan belajar membaca.
Di bawah ini ada dua artikel yang membahas tentang disleksia, baik dari segi pendefenisian maupun pandangan guru terhadap disleksia itu sendiri.

Artikel pertama.
Tunmer, W & Greaney, K. (2010). Defining Dyslexia. Journal of Learning Disabilities, 43 (3), pp.229-243. DOI: 10.1177/0022219409345009

Artikel ini menggali kembali konsep Disleksia yang  berbeda dari defenisi disleksia yang ditetapkan pemerintah Selandia Baru. Defenisi disleksia yang mereka rumuskan berdasarkan realitas di lapangan yang selaras dengan pengertian disleksia menurut Asosiasi Disleksia Internasional.  
Beberapa teori telah salah mengasumsikan bahwa keterampilan  membaca dapat dilihat dari penguasaan siswa  akan kata-kata yang bisa diprediksi ketika membaca sebuah bacaan yang menggunakan sumber beragam. Padahal, memusatkan perhatian terlalu banyak terhadap penguasaan kata-kata cenderung membuat siswa gagal karena mengalihkan perhatiannya dari apa yang seharusnya dipelajari dari bacaan.
Kedua peneliti menggunakan Running Record sebagai alat utama untuk melihat sejauh mana kemampuan membaca siswa. Running Record merupakan  salinan dari bacaan paragraf yang salah ketika siswa membaca secara lisan. Kesalahan ini bisa berupa beberapa konsonan yang mirip, maupun bunyi katanya.
Peneliti menjelaskan bagian-bagian dari defenisi disleksia, yaitu kesulitan belajar membaca yang menetap. Kesulitan yang dimaksud di sini adalah;
1.      Kesulitan Mengenali Kata
2.      Kesulitan Mengeja
3.     Kesulitan Mengodekan Bunyi Bahasa dimana kemampuan untuk mengubah huruf dan pola huruf menjadi bentuk bunyi suara.
Peneliti meluruskan pandangan kesulitan belajar membaca yang “menetap” tersebut. Secara tradisional orang beranggapan, anak-anak disleksia merupakan anak-anak dengan kemampuan IQ yang rendah. Hal ini menimbulkan persepsi negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga merasa malas untuk berusaha keras agar bisa membaca seperti siswa normal yang lain. Sehingga bukan saja mengalami kurang latihan dalam membaca, siswa bahkan menolak mempelajari materi yang terasa sukar bagi mereka. Hal ini sering terjadi pada anak laki-laki. Penelitian sebelumnya dari para ahli memperlihatkan bahwa tes kemampuan intelektual (IQ) tidak relevan digunakan untuk mendefenisikan disleksia.
Sekolah hendaknya memahami mana yang tergolong disleksia, dan mana yang bukan. Yang bukan termasuk kriteria disleksia adalah;
1.      masalah sulit memfokuskan perhatian,
2.      keterbelakangan mental
3.      kerusakan bahasa lisan
4.      gangguan emosi atau gangguan tingkah laku
5.      kesulitan mendengar atau masalah ketajaman penglihatan
6.   kelainan pada syaraf seperti autis atau kurang waras sejak kecil, atau menderita sakit yang sangat parah.
Perbedaan mendasar antara siswa disleksia dengan yang bukan disleksia adalah, siswa mengerti dan dapat menjawab dengan baik bila teks dibacakan, tetapi mengalami kesulitan jika mengkodekan kembali dalam bentuk tulisan. Secara umum anak-anak ini memiliki kecerdasan yang normal.
Peneliti menggunakan model SVR (Simple View of Reading) yang dikembangkan Gough dan Tunmer (1986). Yang diukur dari model ini adalah kemampuan siswa dalam Reading Comprehension (membaca pemahaman, Decoding Skill (kemmapuan mengkodekan kembali huruf), dan Oral Language Comprehension (kemampuan pemahaman bahasa lisan). Selain itu juga menggunakan model RTI untuk langkah preventif dan mengidentifikasi kesulitan belajar membaca. Perbedaannya dengan SVR adalah model RTI mencakup prosedur identifikasi kesulitan belajar membaca dan memantau kemajuan (progres) perkembangan bahasa anak.
Permasalahan utama disleksia selain uraian di atas menurut peneliti ini adalah masalah fonologis, merubah aksara menjadi suara. Defenisi ini cocok dengan defenisi disleksia menurut Asosiasi Disleksia Internasional.                         

Artikel Kedua
Hormstra, L., Denessen, E., Bakker, J.,Bergh, Lvd., Voeten, M (2010). Teacher Attitudes Toward Dyslexia: Effects on Teacher Expectations and the Academic Achievement of Students With Dyslexia, Journal of Learning Disabilities, 43 (6), pp 515-529. DOI:10. 1177/0022219409355479

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian tentang efek sikap guru terhadap pencapaian hasil belajar siswa dengan ketidakmampuan belajar keaksaraan (disleksia) di Belanda yang sekolah  di sekolah umum (inklusi). Penelitian ini difokuskan pada sikap guru terhadap siswa disleksia dan hubungannya dengan prestasi belajarnya.
Sejarah penelitian tentang ekspektasi guru memperlihatkan korelasi positif antara sikap guru yang penuh ekspektasi terhadap prestasi siswa. Ekspektasi yang rendah terhadap siswa dengan label kesulitan belajar keaksaraan atau disleksia dan stigmatisasi atau pelabelan stereotip kelompok orang memungkinkan guru menaruh ekspektasi atau harapan yang rendah terhadap siswa disleksia. Hal ini disebabkan penilaian yang terlihat dari tugas menulis maupun tugas-tugas skolastik lainnya.
Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan guru-guru dari daerah tengah dan selatan Belanda. Sampel terdiri atas 30 orang guru dengan 307 siswa, dimana 40 orang dinilai mengalami disleksia, dan sisanya siswa dengan kemampuan belajar biasa. 8 orang dari siswa disleksia diidentifikasi mengalami gaangguan sikap/perilaku.
Hal-hal yang diukur dalam penelitian ini adalah, 1) sikap guru. Untuk mengukur sikap guru, peneliti menggunakan Self Report. Pengukuran difokuskan pada sikap  atau tindakan eksplisit dan implisit guru terhadap siswa disleksia. Sikap eksplisit guru dilihat dari jawabannya atas kuisioner yang secara lugas menggambarkan perlakuan/sikap guru dalam menghadapi siswa disleksia. Sedangkan kuisioner untuk mengukur sikap implisit guru, dengan pilihan jawabannya lebih disesuaikan agar apa yang hendak diukur tidak terlalu mencolok. 2) Ekspektasi guru. Untuk mengukur hal ini guru mengisi lembar evaluasi tentang karakteristik akademis siswa inklusinya. 3) Pengukuran prestasi siswa untuk melihat dependen maupun independensi siswa. Peengukuran dependen menggunakaan evaluasi bebas dari guru, sedangkan untuk yang independen  menggunakan test dari Dtch National Institue for Educational Measurements (CITO). Variabel kontrol selain jenis kelamin adalah tingkat pendidikan orang tua siswa.
Hasil penelitiaan menunjukkan secara signifikan anak-anak dengan label disleksia rata-rata diberi nilai prestasi yang rendah oleh guru-gurunya. Hal ini terlihat dari tugas menulis dan tugas mengeja, tetapi tidak terlihat pada tugas matematika. Sedangkan hasil pengukuran sikap eksplisit guru terhadap siswa disleksia menunjukkan asumsi dan sikap guru positif terhadap siswa disleksia. Namun dalam pengkukuran sikap implisit justru sebaliknya, sangat variatif. Hal ini membuktikan pelabelan disleksia dalam satu segi mungkin memudahkan guru dalam membantu siswa mengatasi kesulitan keaksaraannya, namun di lain pihak dapat menempatkan anak pada resiko stigmatisasi sebagaimana hasil penelitian tersebut. Untuk meminimalisir stigmatisasi ini diharapkan program pelatihan mauppun pendidikan guru memberitahu tentang bahaya stigmatisasi sehingga guru dapat mengevaluasi sikapnya untuk lebih positif dan memiliki semangat membantu siswa disleksia mengatasi kesulitan belajarnya

 DISKUSI

Pemerolehan kemampuan berbahasa sudah dimiliki anak sejak usia bayi. Perkembangan bahasanya dimulai dari mengenali perbedaan yang sangat kentara antara bunyi-bunyi bahasa, menangis , mendekut, dan kemudian berceloteh di pertengahan tahun pertama kehidupannya.
Pada usia sekolah, perkembangan bahasa anak semakin terasah dengan mempelajari huruf sebagai lambang bunyi bahasa. Kesulitan anak dalam memahami bunyi bahasa, mengenali huruf, kalimat, dan membacanya kembali disebut dengan kesluitan belajar keaksaraan atau disleksia.
Artikel Defining Dyslexia, mencoba mendudukkan kembali konsep disleksia yang sudah dirumuskan pemerintah Selandia Baru (dalam hal ini kementerian pendidikan) yang terlalu menekankan pada pengertian disleksia dengan cakupan ketidakmampuan yang luas, bahkan termasuk didalamnya kesulitan berhitung dan membaca notasi musik, yang sunnguh sangat jauh dari konsep disleksia sebenarnya di lapangan . Pengertian tersebut dirumuskan untuk kemudian dibuktikan melalui penelitian yang ternyata membuktikan bahwa disleksia merupakan kesulitan belajar membaca (yang bersifat) menetap, mencakup kesulitan mengenali kata, mengeja, dan mengkodekan kembali bunyi bahasa dari huruf menjadi bunyi suara.
Vaughn, S, dkk. (2011: 149), menjelaskan, “dyslexia refers to severe difficulty in learning to read, particularly as it relates to decoding and spelling...Dyscalculia refers to sever difficulty in learning mathematical concepts and computations.”
Dari penjelasan Vaughn, dkk. di atas dapat dilihat bahwa disleksia dan diskalkulia adalah dua kesulitan belajar yaang berbeda. Hal ini dapat pula dibuktikan dengan melihat hasil penelitian Tunmer & Greaney yang memperlihatkan bahwa umumnya siswa disleksia tidak bermasalah dalam memahami pelajaraan matematika. Meskipun tidak tertutup kemungkinaan, anak dengan disleksia ternyata juga mengalami diskalkulia sekaligus.
Defenisi lain tentang disleksia dapat kita lihat pada pengertian disleksia oleh pemerintah AS tahun 2004 yang  diotorisasi ulang sebagai,
Seorang anak dengan kesulitan belajar (learning disability) memiliki kesulitan dalam belajar yang meliputi pemahaman atau menggunakan bahasa lisan maupun tulisan, dan kesulitan tersebut terlihat dalam hal memdengar, berpikir, membaca, menulis, dan mengeja...masalah alam belajar ini bukanlah akibat dari keterbatasan visual, pendengaran, atau motorik; retardasi mental; gangguan emosi; atau karena keterbatasan lingkungan, budaya, dan ekonomi.
Dari pengetian di atas dan sebagaimana juga dibahas dalam artikel, antara kesulitan belajar disleksia dengan kesulitan belajar yang bukan merupakan disleksia  seperti sangatlah berbeda. Anak dengan disleksia secara umum normal, tidak mengalami rendahnya IQ, masalah visual, pendengaran, keterbelakaangan mental, dlsb.
Lissa Weinstein, Ph.D dalam bukunya Living with Dyslexia, merumuskan pengertian disleksia secara jelas sbb: “(merupakan) salah satu dari beberapa jenis kesulitan belajar yang khas. Suatu gangguan spesifik berbasis bahasa yang bersifat bawaan ditandai dengan kesulitan mengartikan satu kata tunggal (yang) biasanya mencerminkan kemampuan pemrosesan fonologis yang tidak memadai, (yang tidak berkaitan) dengan usia serta kemampuan kognitif akademis lainnya”
Judul penelitian dan bahasan tentang mendefenisikan disleksia ini menimbulkan pertanyaaan, seberapa pentingkah mendudukkan kembali pengertian disleksia tersebut? Bukankah penelitian tentang teknik mengajar siswa disleksia yang kreatif dan mudah dipahami siswa lebih menarik untuk dibahas?
Mendudukkan konsep disleksia, dengan cara mngoreksi kesalahan defenisi yang dicantumkan oleh Kementerian Pendidikan sebenarnya penting. Kebijakan yang diambil oleh kementerian pendididkan Selandia Baru tentu mengacu pada pengertian yang dibuat tersebut. Kesalahan dalam mendefenisikan disleksia membuat kebijakan penanganan disleksia akan menjadi sulit di lapangan.Koreksi atas kesalahan ini sangatlah tepat.
Hal yang mungkin terlalu sedikit dibahas dalam artikel, ini bahkan dianggap sekunder defenition (tidak terlalu penting) adalah efek sosial dan psikologis yang dialami anak disleksia. Wood, D, dkk. (2012: 23) menguraikan bahwa 
Kesulitan belajar dapat menghinggapi seseorang dalam kurun waktu yang lama..memengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang, baik itu di sekolah, pekerjaan, rutinitas sehari-hari, kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam hubungan persahabatan dan bermain..penderita menyatakan bahwa kesulitan ini berpengaruh ada kebahagiaan mereka.
Banyak selebritis dan bahkan ilmuwan, seperti Einstein, aktor Hollywood seperti Keanu Reeves, Whoopy Goldberg, Tom Cruise, dan petinju legendaris dunia Mohammed Ali,  adalah penyandang disleksia. Mereka menceritakan tekanan psikologis yang mereka alami
Sejak kecil hingga beranjak dewasa. Namun dengan kegigihannya mereka berhasil menggapai cita-citanya. Motivasi seperti ini sangat penting untuk disampaikan pada anak dengan disleksia agar tidak berputus asa dalam menaklukkan kesulitan belajar yang ia alami.
Pada artikel kedua yang berjudul Teacher Attitudes Toward Dyslexia: Effects on Teacher Expectations and the Academic Achievement of Students With Dyslexia., lebih fokus terhadap hubungan antara ekspektasi guru yang positif terhadap siswa disleksia akan meningkatkan hasil belajarnya.
Para ahli perkembangan interaksi berpandangan bahwa biologi dan pengalaman sama-sama berkontribusi terhadap perkembangan bahasa Berko Gleason (dalam Santrock, J. , W. , 2012: 198).Pengalaman belajar yang positif akan menambah semangat siswa dalam mengatasi kesulitan belajar yang ia alami. Sebaliknya, pengalaman yang tidak menyenangkan dalam belajar maupun terapi wicara akan mematikan semangat siswa.
Vaughn, dkk (2011: 147) memberi gambaran sebuah kelas yang mereka kunjungi dimana kedua gurunya bekerjasama membuat perencanaan pembelajaran dan mendesain program pendidikan untuk mendukung dua orang siswanya yaang tergolong memiliki kesulitan belajar. Sikap positif seperti ini, dibarengi dengan pembelajaran yang menyenangkan sangat membaantu siswa menemukan caranya sendiri mengatasi kesulitan belajarnya. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan Wood, D. (2012: 55-60)  tentang perlunya menumbuhkan rasa percaya diri anak dan mampu membangun relasi yang sehat dengan orang lain. Intervensi awal sejak dini diperlukan sebelum anak bersekolah, dan kemudian menyadari bahwa ia memiliki ketidakmampuan yang kemudian memberi cap pada dirinya sendiri kalau ia bodoh karena kesulitan belajar keaksaraan. Sebelum hal itu terjadi membawa anak pada ahli terapi wicara profesional untuk membantunya.Anak akan memiliki cara alternatif untuk belajar. Fleksibilitas otak untuk mempelajari kemampuan baru ini merupakan hal terbesar dalam tahun-tahun awal kehidupan anak, dan akan hilang setelah ia mengalami masa pubertas.
Ada banyak teknik pembelajaraan yang dapat digunakan untuk membantu anak dengan kesulitan belajar, terutama disleksia, seperti;
1.      Menyediakan satu kerangka kerja untuk pembelajaran, yang menggunakan Advance Organizers
2.      Menggunakan pemikiran yang kuat dan percakapan interaktif, dengan metode Cognitive Strategies.
3.      Mengajar menggunakan pengaturan dan pemantauan diri menggunakan Self Monitoring
4.      Menggunakan praktek latihan dan penerapan yang berkelanjutan
5.      Menggunakan alat belajar (media) dan alat bantu
6.      Menyajikan pembelajaran dengan dengan berbagai  cara. (Vaughn, dkk, 2011: 152-160).
Pelaksanaan semua itu akan sia-sia jika guru sebelum melaksanakan pembelajaran sudah memiliki ekspektasi yang rendah terhadap siswanya yang mengalami kesulitan belajar. Pemberian motivasi hanya bisa diberikan oleh orang yang berpikiran positif, untuk itu guru harus menghapus pemikiran kolot seperti di masa lalu yang salah mengenali disleksia sebagai “kekurangan disebabkan rendahnya IQ”, melainkan melaksanakan pembelajaran yang kreatif dengan berbagai langkah yang menarik.
 KONKLUSI

Disleksia merupakan salah satu Learning Disabilities (kesulitan belajar) yang merupakan bawaan berkaitan dengan kesulitan mengenali kata, mengeja, dan mengkodekan kembali bunyi bahasa dari huruf menjadi bunyi suara yang bukan  akibat dari keterbatasan visual, pendengaran, atau motorik; retardasi mental; gangguan emosi; usia serta kemampuan kognitif akademis lainnya. Pengenalan tanda-tanda disleksia sejak dini akan membantu anak secara cepat mendapatkan intervensi sehingga tidak mengalami pengalaman buruk di sekolah, dan pada usia pubertas ia sudah mampu mengatasi kesulitan belajarnya dengan teknik yang ia ciptakan sendiri. Ekspektasi yang positif dari lingkungan, baik keluarga, guru, akan membantu siswa meningkatkan semangat belajarnya, sebaliknya sikap negatif seperti pemberian label atau stigma terhadap siswa disleksia justru akan mematikan potensinyaa sendiri.

 BIBLIOGRAFI
 
Hormstra, L., Denessen, E., Bakker, J.,Bergh, Lvd., Voeten, M (2010). Teacher Attitudes Toward Dyslexia: Effects on Teacher Expectations and the Academic Achievement of Students With Dyslexia, Journal of Learning Disabilities, 43 (6), pp 515-529. DOI:10. 1177/0022219409355479 (on-line) tersedia di http://ldx.sagepub.com/content/43/3/229
Santrock, John W. (2012). Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas  Jilid  I (Life Span Development - 13th ed).  Jakarta: Penerbit Erlangga
Tunmer, W & Greaney, K. (2010). Defining Dyslexia. Journal of Learning Disabilities, 43 (3), pp.229-243.DOI:10.1177/0022219409345009. (on-line) tersedia di http://ldx.sagepub.com/content/43/6/515
Vaughn, S, et all. (2011). Teaching Students Who are Exceptional, Diverse, and At Risk in the General Education Classroom- 5th ed. Boston : Pearson.
Weinstein, L. (2007). Living with Dyslexia: Pergulatan Ibu Melepaskan Putranya dari Derita Kesulitan Belajar. Bandung : Qanita
Wood, D., dkk. (2012). Kiat Mengatasi Gaangguan Belajar. Jogjakarta : Katahati.







Guru SILN, Kenapa, Tidak?

Setelah mengabdi selama lebih dari 1, 5 tahun di Saudi ada banyak nikmat dan kemudahan yang sudah saya rasakan di negeri haramain ini. Baru ...