Rabu, 22 Juli 2026

Guru SILN, Kenapa, Tidak?


Setelah mengabdi selama lebih dari 1, 5 tahun di Saudi ada banyak nikmat dan kemudahan yang sudah saya rasakan di negeri haramain ini. Baru 3 bulan di sini alhamdulillah sudah bisa mendaftar haji melalui kementerian haji Saudi (alhamdulillah dipinjami uang untuk mendaftar oleh teman sesama guru) . Setiap bulan bisa umrah. Di semester kedua, meski dengan meminjam kanan kiri bisa membawa keluarga ikut ke sini (istri dan dua anak). Fabiayyi alaa'i robbikuma tukaddziban? Maka nikmat Allah yang mana lagi yang kami dustai? Sungguh saya bersyukur sekali terpilih ditugaskan mengabdi di sini.

Apapun pilihan hidup kita selalu ada sisi positif dan negatifnya. Hal yang lumrah dirasakan para perantau adalah kerinduan pada kampung halaman, saudara, makanan kas, dan tentu saja kemudahan akses dan kebebasan yang selama ini kita nikmati di negeri kita tercinta. 

Hal lain yang terasa sulit, adalah tiadanya fasilitas yang dinikmati guru sebagai tenaga kerja terampil/profesional selain gaji di Indonesia dan TPLN (Tunjangan Pendidik Luar Negeri) di sini. Sungguh berbeda dengan home staff di kedutaan/konjen yang besaran tunjangannya bisa 2-3 x lipat dibanding para guru dengan tingkat pendidikan yang relatif sama. Mereka juga difasilitasi perumahan.

Menjadi guru di SILN berarti harus mandiri mencari tempat tinggal, memikirkan biaya pendidikan anak, dan asuransi kesehatan sendiri. Kedua item yang sangat mahal biayanya bagi ekspatriat di negara ini. 

Besaran TPLN di Saudi saat ini (2024) masih pada angka 1925 US $ perbulan yang jika dikonversikan ke Saudi menjadi 6900 an SAR ditambah dengan lembur atau jam tambahan sekitar 7900 - 8000 SAR. 

Hal ini sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan gaji guru di Saudi kendiri yang rata-rata berkisar antara 3000 - 4000 US $ (sekitar 11.000 - 15.000 SAR) difasilitasi perumahan dan asuransi kesehatan. 

Sungguh jauh bedanya. Saat ini biaya hidup di Saudi meningkat tajam jika dibandingkan 5 atau 6 tahun lalu saat besaran TPLN ini dirumuskan. Hal ini disebabkan sewa rumah yang mahal dan pajak yang cukup besar. Sewa rumah naik 100 % disebabkan banyaknya penggusuran karena pemerintah di sini saat ini sedang besar-besaran merapikan kotanya untuk menuju semangat Vision Saudi 2030. Kerajaan ini sedang berambisi menyulap negerinya (terutama Kota Jeddah) untuk menjadi kota yang setara dengan kota-kota maju di UEA. Maka bangunan-bangunan lama dan jelek diruntuhkan. Sehingga saat ini ramai orang yang digusur harus mencari sughah. Besarnya permintaan menyebabkan harga rumah sewa dan apartemen jauh melesat naik sejak 2 - 3 tahun terakhir.

Rata-rata sewa rumah di Saudi yang layak untuk keluarga dulu 16.000 SAR (sekitar 64 juta Rupiah perbulan) saat ini naik menjadi 30.000 - 35.000 SAR pertahun. Biaya hidup satu orang dulu sekitar 1000 sekarang naik menjadi 3.000 SAR per orang. Pajak dikenakan untuk seluruh item apapun itu (barang grocery/belanja harian), obat-obatan, dll sebesar 11 %. Sehingga jika seorang guru SILN hemat dengan tidak banyak pengeluaran (sewa rumah 2000/bulan, biaya hidup 3000, sekolah anak, listrik, internet 1000), mungkin bisa menabung sekitar 2.000 SAR. Itu jika keluarga di kampung halaman tidak ada yang harus dibiayai dan cicilan tidak ada yang harus dilunasi. Bukankah guru juga menerima sertifikasi? Tunggu dulu, jika dikonversikan, kedua penghasilan tersebut masih jauh bila dibandingkan dengan penghasilan home staff di kedutaan/konjen apalagi guru di Saudi. 

Hal ini memantik kesimpulan kami para guru SILN untuk meminta para pejabat di Kemdikbud meninjau ulang/menyesuaikan besaran honor/TPLN tersebut menyesuaikan dengan inflasi di Saudi beberapa tahun terakhir. Semoga pilihan menjadi guru SILN tetap diminati ke depannya di tengah berbagai perubahan di penjuru dunia

Jeddah, 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guru SILN, Kenapa, Tidak?

Setelah mengabdi selama lebih dari 1, 5 tahun di Saudi ada banyak nikmat dan kemudahan yang sudah saya rasakan di negeri haramain ini. Baru ...