Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Agustus 2023

Pentingnya Pendidikan Seks bagi anak di Usia Sekolah Dasar





Bagaimana cara menjelaskan apa itu mimpi basah kepada anak lelaki anda?
Bagaimana cara menyiapkan putri anda menghadapi menstruasi pertamanya?
Seperti apa reaksi anda saat memeriksa gawai anak anda yang history penelusuran mesin perambahnya ternyata penuh dengan situs-situs bokep?
Bagaimana anda menjelaskan konsep bahwa mengagumi, mencintai, dan pacaran merupakan sesuatu yang berbeda?


Pertanyaan-pertanyaan ini sering dihadapi orang tua maupun pendidik saat anaknya memasuki usia sekolah/remaja. Namun bagaimana jika anak yang terpapar konten dewasa tersebut masih kelas rendah di Sekolah Dasar? Dan bukan hanya satu atau dua anak? Apa yang harus dilakukan guru dan orang tua?
Realita itulah yang dihadapi sebagian orang tua dan guru  di Indonesia sejak sekolah online berlaku 2019 lalu hingga sekarang. Namun tidak banyak yang berani speak-up membahas masalah ini maupun solusinya karena dianggap sesuatu yang tabu.

Pandemi Covid-19 merubah pola didik anak/siswa yang tadinya dijauhkan dari gawai menjadi akrab dengan gawai setiap harinya. Mereka belajar dan mengerjakan tugas menggunakan gawai, mulai dari anak/siswa di kota sampai di desa. Ketidaksiapan orang tua dan guru mengontrol penggunaan gawai oleh anak/siswa tersebutlah yang menjadi penyebab mudahnya anak/siswa terpapar konten dewasa. Sehingga tidak dapat tidak, kampanye pentingnya Pendidikan seks di usia SD perlu dilakukan untuk mencegah kesalahpahaman anak/siswa dalam memahami diri dan lingkungannya.

Lumrahnya materi reproduksi baru diajarkan di kelas enam, saat siswa memasuki usia pra remaja. Siswa sudah mulai berhadapan dengan masalah perubahan hormon yang menyebabkan perubahan fisik dan emosi, bau keringat, jerawat, serta ketertarikan kepada lawan jenis. Di sini peranan guru dan orang tua penting agar siswa tidak mengalami kesalahan informasi dan persepsi dalam memahami dirinya. Memasukkan norma agama, adat, dan budaya juga sangat tepat agar siswa semakin paham peranannya dalam masyarakat.

Anak lelaki misalnya, secara fisik mereka mengalami perubahan mulai dari tubuh yang semakin berkembang maupun perubahan suara. Orang tua dan guru dapat memberi pemahaman bahwa hal tersebut normal dan justru menandakan bahwa mereka sehat secara fisik. Pengalaman mimpi basah menjadi tanda bahwa mereka sudah siap secara seksual menuju tahap lelaki dewasa, namun secara mental mereka harus banyak belajar dalam hidup. Soal tanggung jawab, mulai dari menjaga kebersihan diri dan pakaian (mencuci sendiri pakaian dalam) mereka, menjaga aurat dan rasa malu mereka di hadapan orang lain.

Untuk anak perempuan pun begitu. Penting sekali bagi orang tua dan guru menjelaskan bahwa perubahan fisik mereka bukanlah keanehan namun menunjukkan bahwa mereka sehat dan menuju kematangan diri. Memahami bahwa secara periode mereka akan mengalami haid, dan siap mengalami pengalaman haid pertamanya sehingga ia tidak menjadi pengalaman yang tidak nyaman. Anak/siswa perempuan hendaknya menyiapkan satu set pembalut kecil untuk disimpan di dalam tasnya, menjaga bila saat itu tiba dia tinggal bergegas ke kamar kecil sehingga dia tetap nyaman beraktivitas baik di rumah, sekolah, maupun di luar ruangan. Memakai deodoran dan parfum agar bau keringat tidak membuatnya malu saat bergaul, dan menjaga kebersihan diri maupun fisiknya. Selain itu masa ini juga menjadi masa terbaik bagi orang tua dan guru menjelaskan bagaimana anak/siswa harus menjaga aurat dan pergaulannya baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Mengajarkan siswa bertanggung jawab atas kebersihan diri maupun memakai rasa malu saat bergaul di tengah masyarakat (pernahkah anda atau petugas kebersihan menemukan bekas pembalut yang dibuang begitu saja di WC sampai membuatnya kotor bahkan tersumbat misalnya? Atau menemukan benda tersebut dibuang di sudut kamar begitu saja dan dibiarkan berhari-hari?). 

Memahami remaja dan menjadi temannya merupakan tugas orang tua dan guru agar mereka tidak gagap menghadapi masa-masa perubahan tersebut.
Tapi bagaimana dengan anak/siswa usia kelas rendah (kelas 2 atau 3) yang sudah terpapar konten dewasa? Cara orang tua/guru menjelaskan konsep-konsep tersebut tentu tidak sama dengan siswa yang sudah duduk di kelas tinggi atau usia pra remaja dimana mereka sudah mulai bisa memahami konsep yang semi konkret maupun abstrak. Di sinilah pentingnya peranan orang tua dan guru menjelaskan menggunakan bahasa sederhana anak seusia tsb bahwa aktivitas seksual bukanlah aktivitas anak-anak seusia mereka. Menggunakan terma, 
“abang sudah siap ya jadi papa? Sudah bisa kerja cari duit, memberi belanja keluarga?”. 
“dedek sudah siap ya jadi mama? Sudah siap punya anak?”
Dihadapkan pertanyaan tersebut anak/siswa yang terpapar konten tersebut biasanya tergeragap dan cepat-cepat menjawab tidak pak, belum bu. Lalu menunduk. 

Orang tua/guru diharapkan bisa memberikan pemahaman pentingnya menjaga aurat dan malu pada anak/siswa di depan orang lain dan Tuhan. Nilai-nilai budaya dan agama yang sekarang justru sudah semakin ditinggalkan. Tentunya menyesuaikan dengan kosakata dan pemahaman mereka. Pentingnya kontrol kebiasaan menggunakan gawai oleh orang tua dan guru serta komunikasi efektif dan terbuka antara anak/siswa dengan orang tua dan guru sangat menentukan apakah anak/siswa dapat melalui proses tersebut. Karena anak-anak usia dini yang terpapar konten dewasa/pornografi cenderung bermasalah secara intelektual, emosi, dan kepercayaan dirinya ke depannya. 

Semoga kita bisa memainkan peranan terbaik kita dalam mendampingi tumbuh kembang anak/siswa kita. Bismillah..

Selasa, 18 Juli 2023

Diklat Asyik Calon Pengajar Praktik (CPP)


Setahun lalu saya mengikuti Diklat Calon Pengajar Praktik (CPP) Angkatan 4 yang diselenggarakan oleh Kemdikbud. Awalnya saya pernah mengikuti seleksi Pendamping Guru Penggerak (sekarang namanya Pengajar Praktik) di angkatan 1 namun karena tidak teliti saat mengisi Esai saat memasukkan aplikasi saya tidak lolos. 

Alhamdulillah setelah berkonsultasi dengan beberapa rekan guru sekaligus sahabat saya; Aa Riyan dan Mbak Wahyu nun jauh di Pulau Jawa sana, tahun ini saya bisa lolos seleksi peserta diklat CPP Angkatan 4 ini. Tuh kan, kolaborasi adalah kunci utama kesuksesan. Kalau zaman dulu ada pameo bahwa di Indonesia Jawa adalah Koentji, maka di zaman ini, Kolaborasi adalah kunci.

Apa sih itu CPP? Calon Pengajar Praktik merupakan seseorang yang ditugaskan mendampingi Calon Guru Penggerak (CGP) dalam menjalankan perannya sebagai Guru Penggerak wabilkhusus selama masa 9 bulan diklat (saat ini dipersingkat menjadi 7 bulan) dengan berbagai kemungkinan alasan, salah satunya efisiensi. Nah, PP ini bertugas mementori dan mengcoaching CGP. 

Cara pendaftaran menjadi CPP yaitu dengan mengisi aplikasi di SIM PKB. Bila daerah anda menjadi sasaran, anda punya kompetensi, integritas, dan kemauan maka anda layak menjadi salah satu peserta! Pantaskan saja dirimu!

Setelah melalui seleksi administrasi, lanjut dengan seleksi simulasi mengajar selama 20 menit dan wawancara dengan dua interviewer. Setelah diamati background kedua pewawancara ini adalah praktisi pendidikan, dan akademisi. Apa saja pertanyaannya? Tentu saja berhubungan dengan essai yang anda isi dan motivasi anda mengikuti seleksi ini.

Setelah lolos maka anda wajib mengikuti Diklat marathon bersama para ahli yang tidak kaleng-kaleng. Di masa saya pemerintah menggandeng ahli dari universitas, coach dari lembaga coaching swasta yang tidak segan-segan membagi ilmu dan pengalamannya bersama para guru yang masih awam tentang prinsip merdeka belajar Ki Hajar Dewantara maupun teknik Coaching dan alur TIRTA-nya. Namun dengan semangat yang menggebu ditambah kolaborasi sesama peserta maka akhirnya resmilah sudah kami menjadi Pengajar Praktik Angkatan 4. 



Berbagai ilmu dan pengalaman di lapangan membimbing para Calon Guru Penggerak yang keren dan penuh semangat menggerakkan pendidikan membuat kami menyadari banyak hal, salah satu poin terpentingnya bahwa kami belajar banyak dari para CGP tentang hakikat pendidikan dan menggerakkan pendidikan menuju arah yang lebih baik. Dan ide, proses, maupun hasilnya tidaklah mudah. Namun semangat kami tidak akan pernah patah.

Semoga jaya selalu CPP angkatan 4 yang sekarang sebagian besar sudah naik pangkat menjadi Fasilitator di angkatan kemarin, dan CGP kami yang saat ini juga sudah mengikuti jejak mentornya menjadi PP di angkatan ini. Apapun itu semoga kita selalu ingat prinsip merdeka belajar bukanlah pada poster, jargon, dan kata-kata ataupun seremonialnya, tetapi pada ide, proses, dan kolaborasi bergerak mewujudkannya. Salam Guru Penggerak! 

Rabu, 04 Maret 2015

Dyslexia, Kesulitan Membaca pada Siswa, Respons Orang Tua dan Guru yang Seharusnya







Setiap orang tua menginginkan anaknya tumbuh secara normal. Menjadi anak yang cerdas di sekolah, soleh  akhlak perilakunya, dan pandai bergaul di tengah masyarakat. Tetapi dalam perkembangannya, beberapa anak memiliki hambatan. Generalisasi bahwa  anak yang mengalami kesulitan belajar disebabkan oleh kurangnya kemampuan intelektual anak tidaklah benar. Sebagian mengalami kesulitan tersebut karena ada masalah dalam mengintegrasikan informasi dari beberapa area otak atau gangguan kecil pada struktur dan fungsi otak (Santrock, 2012 : 324).
Salah satu kesulitan belajar yang dialami anak adalah disleksia (dyslexia). Shaywitz & Sahywitz, 2007 (dalam Santrock, 2012 : 324) menjelaskan 80 persen anak-anak dengan kesulitan belajar bermasalah dengan membaca. Meski penyebab utamanya sampai saat ini belum ditentukan, pemerintah berbagai negara telah melakukan program intervensi untuk membantu anak-anak dengan kesulitan belajar membaca.
Di bawah ini ada dua artikel yang membahas tentang disleksia, baik dari segi pendefenisian maupun pandangan guru terhadap disleksia itu sendiri.

Artikel pertama.
Tunmer, W & Greaney, K. (2010). Defining Dyslexia. Journal of Learning Disabilities, 43 (3), pp.229-243. DOI: 10.1177/0022219409345009

Artikel ini menggali kembali konsep Disleksia yang  berbeda dari defenisi disleksia yang ditetapkan pemerintah Selandia Baru. Defenisi disleksia yang mereka rumuskan berdasarkan realitas di lapangan yang selaras dengan pengertian disleksia menurut Asosiasi Disleksia Internasional.  
Beberapa teori telah salah mengasumsikan bahwa keterampilan  membaca dapat dilihat dari penguasaan siswa  akan kata-kata yang bisa diprediksi ketika membaca sebuah bacaan yang menggunakan sumber beragam. Padahal, memusatkan perhatian terlalu banyak terhadap penguasaan kata-kata cenderung membuat siswa gagal karena mengalihkan perhatiannya dari apa yang seharusnya dipelajari dari bacaan.
Kedua peneliti menggunakan Running Record sebagai alat utama untuk melihat sejauh mana kemampuan membaca siswa. Running Record merupakan  salinan dari bacaan paragraf yang salah ketika siswa membaca secara lisan. Kesalahan ini bisa berupa beberapa konsonan yang mirip, maupun bunyi katanya.
Peneliti menjelaskan bagian-bagian dari defenisi disleksia, yaitu kesulitan belajar membaca yang menetap. Kesulitan yang dimaksud di sini adalah;
1.      Kesulitan Mengenali Kata
2.      Kesulitan Mengeja
3.     Kesulitan Mengodekan Bunyi Bahasa dimana kemampuan untuk mengubah huruf dan pola huruf menjadi bentuk bunyi suara.
Peneliti meluruskan pandangan kesulitan belajar membaca yang “menetap” tersebut. Secara tradisional orang beranggapan, anak-anak disleksia merupakan anak-anak dengan kemampuan IQ yang rendah. Hal ini menimbulkan persepsi negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga merasa malas untuk berusaha keras agar bisa membaca seperti siswa normal yang lain. Sehingga bukan saja mengalami kurang latihan dalam membaca, siswa bahkan menolak mempelajari materi yang terasa sukar bagi mereka. Hal ini sering terjadi pada anak laki-laki. Penelitian sebelumnya dari para ahli memperlihatkan bahwa tes kemampuan intelektual (IQ) tidak relevan digunakan untuk mendefenisikan disleksia.
Sekolah hendaknya memahami mana yang tergolong disleksia, dan mana yang bukan. Yang bukan termasuk kriteria disleksia adalah;
1.      masalah sulit memfokuskan perhatian,
2.      keterbelakangan mental
3.      kerusakan bahasa lisan
4.      gangguan emosi atau gangguan tingkah laku
5.      kesulitan mendengar atau masalah ketajaman penglihatan
6.   kelainan pada syaraf seperti autis atau kurang waras sejak kecil, atau menderita sakit yang sangat parah.
Perbedaan mendasar antara siswa disleksia dengan yang bukan disleksia adalah, siswa mengerti dan dapat menjawab dengan baik bila teks dibacakan, tetapi mengalami kesulitan jika mengkodekan kembali dalam bentuk tulisan. Secara umum anak-anak ini memiliki kecerdasan yang normal.
Peneliti menggunakan model SVR (Simple View of Reading) yang dikembangkan Gough dan Tunmer (1986). Yang diukur dari model ini adalah kemampuan siswa dalam Reading Comprehension (membaca pemahaman, Decoding Skill (kemmapuan mengkodekan kembali huruf), dan Oral Language Comprehension (kemampuan pemahaman bahasa lisan). Selain itu juga menggunakan model RTI untuk langkah preventif dan mengidentifikasi kesulitan belajar membaca. Perbedaannya dengan SVR adalah model RTI mencakup prosedur identifikasi kesulitan belajar membaca dan memantau kemajuan (progres) perkembangan bahasa anak.
Permasalahan utama disleksia selain uraian di atas menurut peneliti ini adalah masalah fonologis, merubah aksara menjadi suara. Defenisi ini cocok dengan defenisi disleksia menurut Asosiasi Disleksia Internasional.                         

Artikel Kedua
Hormstra, L., Denessen, E., Bakker, J.,Bergh, Lvd., Voeten, M (2010). Teacher Attitudes Toward Dyslexia: Effects on Teacher Expectations and the Academic Achievement of Students With Dyslexia, Journal of Learning Disabilities, 43 (6), pp 515-529. DOI:10. 1177/0022219409355479

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian tentang efek sikap guru terhadap pencapaian hasil belajar siswa dengan ketidakmampuan belajar keaksaraan (disleksia) di Belanda yang sekolah  di sekolah umum (inklusi). Penelitian ini difokuskan pada sikap guru terhadap siswa disleksia dan hubungannya dengan prestasi belajarnya.
Sejarah penelitian tentang ekspektasi guru memperlihatkan korelasi positif antara sikap guru yang penuh ekspektasi terhadap prestasi siswa. Ekspektasi yang rendah terhadap siswa dengan label kesulitan belajar keaksaraan atau disleksia dan stigmatisasi atau pelabelan stereotip kelompok orang memungkinkan guru menaruh ekspektasi atau harapan yang rendah terhadap siswa disleksia. Hal ini disebabkan penilaian yang terlihat dari tugas menulis maupun tugas-tugas skolastik lainnya.
Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan guru-guru dari daerah tengah dan selatan Belanda. Sampel terdiri atas 30 orang guru dengan 307 siswa, dimana 40 orang dinilai mengalami disleksia, dan sisanya siswa dengan kemampuan belajar biasa. 8 orang dari siswa disleksia diidentifikasi mengalami gaangguan sikap/perilaku.
Hal-hal yang diukur dalam penelitian ini adalah, 1) sikap guru. Untuk mengukur sikap guru, peneliti menggunakan Self Report. Pengukuran difokuskan pada sikap  atau tindakan eksplisit dan implisit guru terhadap siswa disleksia. Sikap eksplisit guru dilihat dari jawabannya atas kuisioner yang secara lugas menggambarkan perlakuan/sikap guru dalam menghadapi siswa disleksia. Sedangkan kuisioner untuk mengukur sikap implisit guru, dengan pilihan jawabannya lebih disesuaikan agar apa yang hendak diukur tidak terlalu mencolok. 2) Ekspektasi guru. Untuk mengukur hal ini guru mengisi lembar evaluasi tentang karakteristik akademis siswa inklusinya. 3) Pengukuran prestasi siswa untuk melihat dependen maupun independensi siswa. Peengukuran dependen menggunakaan evaluasi bebas dari guru, sedangkan untuk yang independen  menggunakan test dari Dtch National Institue for Educational Measurements (CITO). Variabel kontrol selain jenis kelamin adalah tingkat pendidikan orang tua siswa.
Hasil penelitiaan menunjukkan secara signifikan anak-anak dengan label disleksia rata-rata diberi nilai prestasi yang rendah oleh guru-gurunya. Hal ini terlihat dari tugas menulis dan tugas mengeja, tetapi tidak terlihat pada tugas matematika. Sedangkan hasil pengukuran sikap eksplisit guru terhadap siswa disleksia menunjukkan asumsi dan sikap guru positif terhadap siswa disleksia. Namun dalam pengkukuran sikap implisit justru sebaliknya, sangat variatif. Hal ini membuktikan pelabelan disleksia dalam satu segi mungkin memudahkan guru dalam membantu siswa mengatasi kesulitan keaksaraannya, namun di lain pihak dapat menempatkan anak pada resiko stigmatisasi sebagaimana hasil penelitian tersebut. Untuk meminimalisir stigmatisasi ini diharapkan program pelatihan mauppun pendidikan guru memberitahu tentang bahaya stigmatisasi sehingga guru dapat mengevaluasi sikapnya untuk lebih positif dan memiliki semangat membantu siswa disleksia mengatasi kesulitan belajarnya

 DISKUSI

Pemerolehan kemampuan berbahasa sudah dimiliki anak sejak usia bayi. Perkembangan bahasanya dimulai dari mengenali perbedaan yang sangat kentara antara bunyi-bunyi bahasa, menangis , mendekut, dan kemudian berceloteh di pertengahan tahun pertama kehidupannya.
Pada usia sekolah, perkembangan bahasa anak semakin terasah dengan mempelajari huruf sebagai lambang bunyi bahasa. Kesulitan anak dalam memahami bunyi bahasa, mengenali huruf, kalimat, dan membacanya kembali disebut dengan kesluitan belajar keaksaraan atau disleksia.
Artikel Defining Dyslexia, mencoba mendudukkan kembali konsep disleksia yang sudah dirumuskan pemerintah Selandia Baru (dalam hal ini kementerian pendidikan) yang terlalu menekankan pada pengertian disleksia dengan cakupan ketidakmampuan yang luas, bahkan termasuk didalamnya kesulitan berhitung dan membaca notasi musik, yang sunnguh sangat jauh dari konsep disleksia sebenarnya di lapangan . Pengertian tersebut dirumuskan untuk kemudian dibuktikan melalui penelitian yang ternyata membuktikan bahwa disleksia merupakan kesulitan belajar membaca (yang bersifat) menetap, mencakup kesulitan mengenali kata, mengeja, dan mengkodekan kembali bunyi bahasa dari huruf menjadi bunyi suara.
Vaughn, S, dkk. (2011: 149), menjelaskan, “dyslexia refers to severe difficulty in learning to read, particularly as it relates to decoding and spelling...Dyscalculia refers to sever difficulty in learning mathematical concepts and computations.”
Dari penjelasan Vaughn, dkk. di atas dapat dilihat bahwa disleksia dan diskalkulia adalah dua kesulitan belajar yaang berbeda. Hal ini dapat pula dibuktikan dengan melihat hasil penelitian Tunmer & Greaney yang memperlihatkan bahwa umumnya siswa disleksia tidak bermasalah dalam memahami pelajaraan matematika. Meskipun tidak tertutup kemungkinaan, anak dengan disleksia ternyata juga mengalami diskalkulia sekaligus.
Defenisi lain tentang disleksia dapat kita lihat pada pengertian disleksia oleh pemerintah AS tahun 2004 yang  diotorisasi ulang sebagai,
Seorang anak dengan kesulitan belajar (learning disability) memiliki kesulitan dalam belajar yang meliputi pemahaman atau menggunakan bahasa lisan maupun tulisan, dan kesulitan tersebut terlihat dalam hal memdengar, berpikir, membaca, menulis, dan mengeja...masalah alam belajar ini bukanlah akibat dari keterbatasan visual, pendengaran, atau motorik; retardasi mental; gangguan emosi; atau karena keterbatasan lingkungan, budaya, dan ekonomi.
Dari pengetian di atas dan sebagaimana juga dibahas dalam artikel, antara kesulitan belajar disleksia dengan kesulitan belajar yang bukan merupakan disleksia  seperti sangatlah berbeda. Anak dengan disleksia secara umum normal, tidak mengalami rendahnya IQ, masalah visual, pendengaran, keterbelakaangan mental, dlsb.
Lissa Weinstein, Ph.D dalam bukunya Living with Dyslexia, merumuskan pengertian disleksia secara jelas sbb: “(merupakan) salah satu dari beberapa jenis kesulitan belajar yang khas. Suatu gangguan spesifik berbasis bahasa yang bersifat bawaan ditandai dengan kesulitan mengartikan satu kata tunggal (yang) biasanya mencerminkan kemampuan pemrosesan fonologis yang tidak memadai, (yang tidak berkaitan) dengan usia serta kemampuan kognitif akademis lainnya”
Judul penelitian dan bahasan tentang mendefenisikan disleksia ini menimbulkan pertanyaaan, seberapa pentingkah mendudukkan kembali pengertian disleksia tersebut? Bukankah penelitian tentang teknik mengajar siswa disleksia yang kreatif dan mudah dipahami siswa lebih menarik untuk dibahas?
Mendudukkan konsep disleksia, dengan cara mngoreksi kesalahan defenisi yang dicantumkan oleh Kementerian Pendidikan sebenarnya penting. Kebijakan yang diambil oleh kementerian pendididkan Selandia Baru tentu mengacu pada pengertian yang dibuat tersebut. Kesalahan dalam mendefenisikan disleksia membuat kebijakan penanganan disleksia akan menjadi sulit di lapangan.Koreksi atas kesalahan ini sangatlah tepat.
Hal yang mungkin terlalu sedikit dibahas dalam artikel, ini bahkan dianggap sekunder defenition (tidak terlalu penting) adalah efek sosial dan psikologis yang dialami anak disleksia. Wood, D, dkk. (2012: 23) menguraikan bahwa 
Kesulitan belajar dapat menghinggapi seseorang dalam kurun waktu yang lama..memengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang, baik itu di sekolah, pekerjaan, rutinitas sehari-hari, kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam hubungan persahabatan dan bermain..penderita menyatakan bahwa kesulitan ini berpengaruh ada kebahagiaan mereka.
Banyak selebritis dan bahkan ilmuwan, seperti Einstein, aktor Hollywood seperti Keanu Reeves, Whoopy Goldberg, Tom Cruise, dan petinju legendaris dunia Mohammed Ali,  adalah penyandang disleksia. Mereka menceritakan tekanan psikologis yang mereka alami
Sejak kecil hingga beranjak dewasa. Namun dengan kegigihannya mereka berhasil menggapai cita-citanya. Motivasi seperti ini sangat penting untuk disampaikan pada anak dengan disleksia agar tidak berputus asa dalam menaklukkan kesulitan belajar yang ia alami.
Pada artikel kedua yang berjudul Teacher Attitudes Toward Dyslexia: Effects on Teacher Expectations and the Academic Achievement of Students With Dyslexia., lebih fokus terhadap hubungan antara ekspektasi guru yang positif terhadap siswa disleksia akan meningkatkan hasil belajarnya.
Para ahli perkembangan interaksi berpandangan bahwa biologi dan pengalaman sama-sama berkontribusi terhadap perkembangan bahasa Berko Gleason (dalam Santrock, J. , W. , 2012: 198).Pengalaman belajar yang positif akan menambah semangat siswa dalam mengatasi kesulitan belajar yang ia alami. Sebaliknya, pengalaman yang tidak menyenangkan dalam belajar maupun terapi wicara akan mematikan semangat siswa.
Vaughn, dkk (2011: 147) memberi gambaran sebuah kelas yang mereka kunjungi dimana kedua gurunya bekerjasama membuat perencanaan pembelajaran dan mendesain program pendidikan untuk mendukung dua orang siswanya yaang tergolong memiliki kesulitan belajar. Sikap positif seperti ini, dibarengi dengan pembelajaran yang menyenangkan sangat membaantu siswa menemukan caranya sendiri mengatasi kesulitan belajarnya. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan Wood, D. (2012: 55-60)  tentang perlunya menumbuhkan rasa percaya diri anak dan mampu membangun relasi yang sehat dengan orang lain. Intervensi awal sejak dini diperlukan sebelum anak bersekolah, dan kemudian menyadari bahwa ia memiliki ketidakmampuan yang kemudian memberi cap pada dirinya sendiri kalau ia bodoh karena kesulitan belajar keaksaraan. Sebelum hal itu terjadi membawa anak pada ahli terapi wicara profesional untuk membantunya.Anak akan memiliki cara alternatif untuk belajar. Fleksibilitas otak untuk mempelajari kemampuan baru ini merupakan hal terbesar dalam tahun-tahun awal kehidupan anak, dan akan hilang setelah ia mengalami masa pubertas.
Ada banyak teknik pembelajaraan yang dapat digunakan untuk membantu anak dengan kesulitan belajar, terutama disleksia, seperti;
1.      Menyediakan satu kerangka kerja untuk pembelajaran, yang menggunakan Advance Organizers
2.      Menggunakan pemikiran yang kuat dan percakapan interaktif, dengan metode Cognitive Strategies.
3.      Mengajar menggunakan pengaturan dan pemantauan diri menggunakan Self Monitoring
4.      Menggunakan praktek latihan dan penerapan yang berkelanjutan
5.      Menggunakan alat belajar (media) dan alat bantu
6.      Menyajikan pembelajaran dengan dengan berbagai  cara. (Vaughn, dkk, 2011: 152-160).
Pelaksanaan semua itu akan sia-sia jika guru sebelum melaksanakan pembelajaran sudah memiliki ekspektasi yang rendah terhadap siswanya yang mengalami kesulitan belajar. Pemberian motivasi hanya bisa diberikan oleh orang yang berpikiran positif, untuk itu guru harus menghapus pemikiran kolot seperti di masa lalu yang salah mengenali disleksia sebagai “kekurangan disebabkan rendahnya IQ”, melainkan melaksanakan pembelajaran yang kreatif dengan berbagai langkah yang menarik.
 KONKLUSI

Disleksia merupakan salah satu Learning Disabilities (kesulitan belajar) yang merupakan bawaan berkaitan dengan kesulitan mengenali kata, mengeja, dan mengkodekan kembali bunyi bahasa dari huruf menjadi bunyi suara yang bukan  akibat dari keterbatasan visual, pendengaran, atau motorik; retardasi mental; gangguan emosi; usia serta kemampuan kognitif akademis lainnya. Pengenalan tanda-tanda disleksia sejak dini akan membantu anak secara cepat mendapatkan intervensi sehingga tidak mengalami pengalaman buruk di sekolah, dan pada usia pubertas ia sudah mampu mengatasi kesulitan belajarnya dengan teknik yang ia ciptakan sendiri. Ekspektasi yang positif dari lingkungan, baik keluarga, guru, akan membantu siswa meningkatkan semangat belajarnya, sebaliknya sikap negatif seperti pemberian label atau stigma terhadap siswa disleksia justru akan mematikan potensinyaa sendiri.

 BIBLIOGRAFI
 
Hormstra, L., Denessen, E., Bakker, J.,Bergh, Lvd., Voeten, M (2010). Teacher Attitudes Toward Dyslexia: Effects on Teacher Expectations and the Academic Achievement of Students With Dyslexia, Journal of Learning Disabilities, 43 (6), pp 515-529. DOI:10. 1177/0022219409355479 (on-line) tersedia di http://ldx.sagepub.com/content/43/3/229
Santrock, John W. (2012). Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas  Jilid  I (Life Span Development - 13th ed).  Jakarta: Penerbit Erlangga
Tunmer, W & Greaney, K. (2010). Defining Dyslexia. Journal of Learning Disabilities, 43 (3), pp.229-243.DOI:10.1177/0022219409345009. (on-line) tersedia di http://ldx.sagepub.com/content/43/6/515
Vaughn, S, et all. (2011). Teaching Students Who are Exceptional, Diverse, and At Risk in the General Education Classroom- 5th ed. Boston : Pearson.
Weinstein, L. (2007). Living with Dyslexia: Pergulatan Ibu Melepaskan Putranya dari Derita Kesulitan Belajar. Bandung : Qanita
Wood, D., dkk. (2012). Kiat Mengatasi Gaangguan Belajar. Jogjakarta : Katahati.







Jumat, 27 Februari 2015

Hakikat Kebenaran

Kebenaran adalah sebuah keniscayaan bagi manusia. kebenaran menurut pepatah nenek moyang orang Minang, ia berdiri sendiri, berasal dari Yang Satu..jika boleh dianalogikan, ia ibarat semangkuk es tebak di warung RM.Padang. Lidah kita akan dimanjakan oleh berbagai campuran rasa, terkadang bertemu dengan lembutnya agar, warna-warni kolang-kaling yang keras kalau digigit, bahkan kacang tanah di dalamnya, selain roti tawar. Penuh kejutan, penuh tebakan. Maka jangan memandangnya hanya berisi agar saja, atau dibilang rasa manis dari tebunya saja, ada santan dan susu yang jika tak jeli sulit memisahkan rasanya.
Maka kebenaran itu relatif, dari sudut mana kita memandangnya. Benar dalam kacamata kita, berdasarkan pengalaman inderawi kita, belum tentu benar bagi orang lain. perbedaan latar belakang, pola didik orang tua dan lingkungan, agama dan budaya mengharuskan kita bijak dalam melihat sesuatu. Apalagi menilai sesuatu. Ini yang paling sulit, menilai sesuatu tanpa memberi cap/stigmatis pada sesuatu dengan adil. sunnguh ketika menerima sebuah kalimat "merasa benar sendiri" saya tertawa dalam hati. Saya sudah lama meninggalkan prinsip "merasa benar sendiri itu" mungkin sudah sejak belasan tahun lalu, sejak saya menyadari hakikat bahwa dunia ini penuh dengan berbagai kebenaran2x yang kadang tak pernah terpikirkan oleh kita. Menyadari bahwa hidup penuh dengan berbagai intrik dan kepentingan, kepalsuan, kelicikan, pengkhianatan, adalah realita yang sering kita temukan di sekitar kita. Awalnya, mungkin kita ternganga, tetapi kemudian terjaga dari tidur panjang itu, bahwa inilah kehidupan. Allah menciptakan pasangan dari setiap hal di dunia ini. kejujuran, kecerdasan, kesetiaan, ikhlas tanpa balas jasa ada dalam hati sanubari tiap insan, bahkan dalam hati siapapun.
Saya yakin dengan dilandasi cinta dan pengorbanan kita mampu melalui setiap detik perjuangan dalam hidup ini dengan memilih mana yang membuat kita merasa nyaman. dan semakin jernih kita memandang setiap persoalan, semakin dewasa kita ditempa kehidupan.


Renungan panjang
di Ledeng, Bandung27 Februari 20015

Kamis, 22 Januari 2015

Semangat!!



Padang, 29 Desember 2014
Akhirnya aku dirawat di Rumah Sakit. 3 Rumah sakit. R.S. Advent di Bandung, Siti Rahmah dan Yos sudarso di Padang. Tak sedikit biaya yang harus kukorbankan, habis seluruh tabungan beasiswaku. Pada saat yang bersamaan, Allah juga mengujiku dengan sakitnya istriku. Awalnya Belspalsi, kemudian Vertigo.
Di Bandung, aku dirawat dengan setia oleh Agus, sahabatku yang dari Jambi. Sedangkan di St. Rahmah aku dirawat Cik Ani dan Bunda. Di R.S Yos Sudarso, One Upik yang merawatku.
Sebulan kemudian, aku dinyatakan sehat. Dan kembali lagi ke Bandung. Melanjutkan studi, bertarung dengan waktu untuk menyelesaikan tugas2x dan ujian. Bersama teman-teman yang luar biasa, alhamdulillah, aku bisa melewatinya.
Sebagian teman yang tidak mengerti dengan kerasnya prinsip hidupku mungkin berpikiran aku seorang yang kolot, tidak gaul, tidak modern. Saya tidak mengerti konsep modern yang mana yang ia pakai. Jika modern berarti lebih beradab, maka anda salah. Modern berarti tetap teguh dengan jati diri, tetapi tidak menolak pembaruan yang positif. Jika modern berarti weternisasi, komsumtif lifestyle, erasing our identity as a Muslim Malayan, u’re a stupid bloodi moron person! Orang Quraisy pada masa Nabi SAW bahkan juga modern pada zamannya. Jadi apa yang anda bangga2xkan sebagai modern itu hanyalah secuil sampah dari tuanya peradaban ini.
Di sini, dalam liburan panjangku selama 1 bulan ini. Di tengah dengkuran lembut istri dan anakku yang tertidur lelap, aku berada kembali di kotaku. Kota yang kubenci karena tak disiplin, angkuh, dan tertinggal dibanding kota lain di Sumatra. Kota yang sampahnya merata-rata. Kota yang sekaligus kukangeni, kusayangi karena disinilah tumpah darahku, makanannya terenak di dunia, terkenal dengan budaya matrilineal dan Islamnya yang kuat, dan kota warisan masa lalu yang gemilang, berlatar pemandangan alam yang menakjubkan. Kota tempat kakek-nenekku mengikat janji, menjemput restu ke bumi Kerinci agar mereka bisa menikah. Kota tempat ayah bundaku dilahirkan, dibesarkan, dan berpulang. Kota tempatku menutup mata nantinya.

Guru SILN, Kenapa, Tidak?

Setelah mengabdi selama lebih dari 1, 5 tahun di Saudi ada banyak nikmat dan kemudahan yang sudah saya rasakan di negeri haramain ini. Baru ...